Di awal kehidupan manusia yang masih sangat sederhana, rumah hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan dasar, yaitu sebagai tempat berteduh dan berlindung dan cuaca dan gangguan alam. Pertama kali rumah diciptakan polanya sangat kontekstual dengan alam sekitarnya. Pola ini disebut sebagai indigenous architecture atau arsitektur vernakular. Arsitektur Rumah tanpa arsitek ini biasanya dibangun dan material lokal, yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan, serta memiliki respons yang sangat baik terhadap iklim yang ada. Pembentukan rumah pada saat itu merupakan proses dan zaman ke zaman yang memakan waktu ratusan tahun untuk mendapatkan model rumah yang sempurna. Tak heran bila rumah-rumah tradisional ini pada umumnya justru memenuhi kriteria sebagai rumah sehat.
Indonesia yang meiniliki iklim tropis yang panas, lembab, bercurah hujan tinggi,
sebagin besar rumah tradisionalnya berupa Arsitektur rumah panggung dengan material kayu, bambu, tanah liat, serta dedaunan. Selain melindungi penghuni dan serangan binatang buas, rumah panggung juga menghasilkan sirkulasi udara di kolong Arsitektur rumah yang sangat baik untuk mengurangi tingkat kelembaban udara serta menjaga kekeringan lantai.
Penggunaan material alam membuat rumah tropis dapat bernapas dengan baik. Sementara itu, bentuk atap iniring berfungsi mengahirkan air untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi.
Selain respons terhadap alam, rumah tradisional juga mencerminkan budaya setempat. inisalnya, overstek yang rendah bertujuan agar manusia menunduk ketika memasuki rumah, dan ini menggambarkan rasa hormat kepada penghuni rumah. Sedangkan layoutnya sesuai dengan budaya tradisional yang bersangkutan. Secara garis besar,
rumah tradisional mampu memadukan kebituhan fisik manusia dengan kebutuhan spiritualnya. Namun, kemajuan zaman serta pertumbuhan populasi manusia yang pesat membuat manusia berpikir untuk menciptakan produk massal yang serba cepat dan instan.
Tumbuhnya kota-kota besar pun tidak terhindarkan dan menciptakan pergerakan arsitektur. Pergerakan ini kemudian lebih didasari kebutuhan manusia modern yang Semakin kompleks. Rumah tidak lagi sebagai pemenuhan kebutuhan primer untuk berlindung, namun sebagai pemenuhan kebutuhan sekunder, tersier, serta sebagai simbol eksistensi din penghuninya. Selain itu, industrialisasi dan kemajuan teknologi pun memberi dampak langsung terhadap pergerakan arsitektur rumah. Hal ini sering mengakibatkan konsep perancangan arsitektur meninggalkan kaidah-kaidah alam dan kultur, dan melupakan kesehatan bangunan serta penghuninya.